Ayu Asih, Pencetak Penerus Tari Bali

Sosok wanita berpenampilan sederhana itu sangat kreatif dalam bidang seni, khususnya tari Bali dan kehidupan yang dilakoni sehari-hari tidak bisa dipisahkan dengan kesenian.Tampil selalu lincah dengan gerakan tari mengikuti irama gamelan yang mengiringinya di atas pentas, menarik perhatian ribuan penonton saat tampil di berbagai tempat di Pulau Dewata.

Anak Agung Ayu Sasih SH (60), wanita kelahiran Karangasem, 19 September 1951 memiliki keahlian dalam mementaskan berbagai jenis tarian maupun memainkan gamelan, instrumen musik tradisional Bali.

Suami dari Anak Agung Raka Atmadja itu juga menekuni seni sastra, musik, seni rupa, merangkai janur, mengukir buah untuk kelengkapan menyajikan menu makanan serta mengumandangkan ayat-ayat kitab suci agama Hindu, Weda.

Ibu dua anak masing-masing Anak Agung Ayu Mas Ratna Dewi dan Anak Agung Ayu Trisna Wahyuni Dewi itu hasil karyanya antara lain pernah membentuk drama anak-anak melibatkan siswa SMPNI Karangasem dengan judul Raja Pala tahun 1970.

Pensiunan PNS itu juga pernah membuat senderatari berjudul “Ituung Kuning” bersama sekaa gong Selumbung Manggis pada tahun 1972, menyusul senderatari Ramayana dengan sekaa gong  pelajar gabungan SMAN Karangasem hingga sukses pentas di Kota Denpasar dan Buleleng.

Karya monomental lainnya membentuk sanggar tari Widia Winangun Amlapura dengan anak binaan lebih dari 100 orang, sekaligus menerus seni budaya Bali, khususnya bidang tari. Dengan dibantu Anak Agung Ayu Ngurah mampu mencetak penabuh dan penari andal hingga sukses pentas ke Australia dan Hongkong.

Atas prestasinya itu Anak Agung Ayu Sasih, sosok wanita  yang tampak sehat bugar pada usia senjanya itu kini masuk nominasi salah seorang seniman tua penerima penghargaan seni dari Pemerintah Provinsi Bali terkait pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 tahun 2011, tutur Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Ketut Suastika.

Pihaknya membentuk tim beranggotakan dari instansi terkait untuk melakukan seleksi dan penilaian terhadap usulan dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali, dengan harapan penghargaan seni yang diberikan pemerintah setempat betul-betul kepada mereka yang mengabdikan dirinya dalam bidang seni.

Tim melakukan penilaian menyangkut berbagai aspek antara lain kemampuan,  prestasinya, dedikasi dan pengabdian dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya Bali hingga kokoh seperti sekarang, di tengah perkembangan pariwisata yang pesat.

Tari cegah penyakit

Ayu Sasih yang pernah mengenyam pendidikan di Kokar Bali tahun 1969 itu juga mampu menciptakan tari lepas yang diberi judul tari “Wiadi Karana” atau tari “Lalat” yang melambangkan kesehatan, yakni mencegah penyakit diare yang dipentaskan dalam memperingati hari Kesehatan.

Tari tersebut cukup memasyarakat hingga kini sering dipentaskan sekaa gong Abian Jero Kabupaten Karangasem, Bali timur.  Selain itu juga menciptakan puluhan karya tari lainnya, termasuk menciptakan lagu anak-anak maupun untuk orang dewasa.

Keterampilan yang jarang dimiliki orang lain adalah mengukir buah yang ditata sedemikian rupa dalam menyajikan menu makanan untuk orang banyak.

Ibu dua putri  itu menggeluti aktivitas tari Bali hampir selama 41 tahun, setelah menyelesaikan pendidikan di Kokar yang kini berubah status menjadi Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI) tahun 1969.

Keahlian dan keterampilan yang dimilikinya itu kini dengan senang hati ditularkan kepada  siapa saja, baik anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua, sehingga telah berhasil mencetak ratusan bahkan ribuan seniman baik tabuh dan tari Bali.

Pembinaan terhadap sekaa kesenian Bali, terutama yang paling menonjol  di lingkungan kota Amlapura dan desa-desa di Kabupaten Karangasem, Bali timur.

Keahliannya itu juga ditularkan kepada ibu-ibu anggota PKK desa setempat dan sejumlah desa lainnya. Anggota PKK hasil binaannya sering tampil dalam memeriahkan berbagai kegiatan, termasuk tampil di arena Pesta Kesenian Bali (PKB), aktivitas seni tahunan di Bali.

Penampilan dengan gaya dan kemampuan yang tidak kalah menarik dengan penabuh pria, sehingga setiap pementasan yang melibatkan sekaa kesenian wanita mendapat perhatian besar dari masyarakat penonton.

Selain melatih anggota PKK dan masyarakat umum, wanita berpenampilan sederhana itu juga menciptakan tabuh dan tari, sebagai wujud tanggung jawab, pengabdian terhadap seni dan masyarakat.

Wanita yang telah memasuki masa purnakarya (pensiun) dengan segudang prestasi dan penghargaan itu juga pernah keluar sebagai juara III tingkat nasional dalam penulisan puisi.

Sosok wanita yang masih enerjik pada usia senjanya itu hingga sekarang masih melatih generasi penerus dalam bidang tabuh dan tari Bali.

“Dengan seni tari saya bisa “beryadnya” pengorbanan secara tulus ikhlas, yakni menari di Pura saat upacara piodalan tanpa imbalan,” tuturnya.

Sumber: Kompasdotcom

linkjournal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: