Rupiah Melemah Resahkan Pendagang Elektronik

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat sejumlah industri dengan komponen produksi dari luar negeri merugi. Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel), Ali Soebroto Oentaryo, ketika dihubungi, Jumat, 16 September 2011, mengatakan, komponen produksi yang dibeli dengan dolar biayanya naik karena nilai tukar. Namun, harga jual tetap.

Ali lalu menjelaskan, komponen produksi yang dibeli dengan dolar antara lain bahan baku. “Belum tentu bahan baku dari impor. Tapi, besi baja yang dibeli dari dalam negeri pun diperdagangkan dengan dolar,” ujarnya.

Sebagian besar komponen produksi barang elektronik dibeli dengan dolar. “Porsinya rata-rata sekitar 70 persen,” kata dia. Sementara komponen produksi yang dibeli atau dibayar dengan rupiah di antaranya listrik dan upah pekerja.

Jika rupiah melemah dari Rp 8.500 sampai Rp 8.800 per dolar, maka ada kerugian Rp 300 pada setiap komponen yang dibeli atau dibayar dengan dolar. “Artinya, nilai kerugiannya sampai 4 persen,” ujarnya.

Apabila komponen dolar dalam satu produksi barang elektronik mencapai 70 persen, maka kerugiannya bisa sebesar 2,8 persen untuk setiap produk. “Kalau sekali saja terjadi fluktuasi seperti ini, mungkin perusahaan masih bisa bertahan. Kalau berkali-kali tentu akan rugi besar,” kata dia.

Maka, Ali meminta pemerintah menjaga rupiah dalam kondisi stabil. “Stabil dalam arti perubahan nilai rupiah hanya 1 persen,” ujarnya. Sebab, jika rupiah melemah, biaya produksi naik, tetapi harga jual tidak bisa langsung dinaikkan. Sedangkan jika rupiah menguat, konsumen akan mempertanyakan jika harga barang elektronik tidak ikut turun.

Sementara itu, industri elektronik berorientasi ekspor tidak terkena imbas akibat melemahnya rupiah. “Justru ini berkah buat mereka,” kata Ali. Beberapa perusahaan produsen elektronik yang mengekspor produknya antara lain LG, Samsung, dan Panasonic.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat juga mengatakan, industri tekstil yang berorientasi pasar ekspor belum terpengaruh pelemahan rupiah. Kalau industri yang tujuan pasarnya dalam negeri pasti akan bermasalah. “Kita tidak boleh bertransaksi dalam mata uang asing untuk perdagangan dalam negeri,” kata Ade. Tempo

LinkJournal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: