Sumut Kehilangan Devisa US$ 408,4 Juta dari Karet

LinkJournal – Tertekannya harga karet di pasar internasional menyebabkan devisa dari komoditas ekspor andalan Sumut ini mengalami penurunan signifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatat sepanjang Januari hingga Agustus tahun ini, nilai devisa dari ekspor karet Sumut mencapai angka US$1,03 miliar. Angka tersebut mengalami penurunan sekira 28,31% dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai angka US$1,44 miliar. "Tahun ini, Sumut kehilangan devisa karet sekira US$408,4 juta dibanding tahun lalu," kata Kepala BPS Sumut, Wien Kusdiatmono, Senin (6/10).

Menurut dia, tren penurunan nilai ekspor karet tersebut telah berlangsung sejak tahun lalu menyusul tertekannya harga karet di pasar internasional. Jika harga turun, otomatis pendapatan dari ekspor karet akan turun meski volume mengalami peningkatan.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah mengatakan tertekannya harga karet di pasar internasional menyebabkan pengusaha membatasi ekspor mereka karena merugi. "Saat ini, permasalahan karet sudah sangat krusial. Harga di pasaran rendah sehingga menekan devisa dan volume ekspor karet," katanya.

Pada perdagangan awal bulan ini misalnya, harga karet sempat menyentuh level terendah atau tak lebih dari US$1,37 per kg. Bahkan, angka itu diklaim sebagai harga terendah dalam lima tahun terakhir yang menyebabkan petani dan pengusaha merugi. Tren penurunan harga itu kembali terjadi pada perdagangan awal pekan ini setelah sempat menyentuh angka US$1,47 per kg pada penutupan perdagangan pekan lalu. "Pasar terus bergejolak dan terus menekan harga karet," katanya.

Permintaan yang rendah dari sejumlah negara konsumen utama seperti Amerika, Eropa, Tiongkok, India dan sejumlah negara di kawasan Asia menjadi pemicu utama anjloknya harga karet. Menurut dia, saat ini perekonomian negara-negara konsumen utama belum pulih benar dari dampak krisis global yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Kinerja industri otomotif yang menjadi pasar potensial kini masih berjalan lambat sehingga permintaan karet di pasaran mengalami penurunan signifikan. Belum lagi dengan gejolak unjuk rasa di Hongkong menyebabkan perekonomian di Tiongkok makin tak karuan sehingga mempengaruhi harga karet. Selain itu, harga minyak mentah dunia yang turun akibat pemberian diskon oleh pemerintah Arab juga menjadi salah satu penyebab anjloknya harga karet itu.

Tak pelak, bukan hanya nilai dan volume ekspor karet yang terus tertekan, imbas lain dari anjloknya harga karet itu adalah baik petani maupun pengusaha mulai merugi. Bahkan, saat ini telah banyak petani yang berhenti menderes getah karet karena dinilai tak lagi menguntungkan. Begitupun pegusaha yang mulai membatasi produksi dengan harapan langkah tersebut mampu mengerek harga karet. "Tapi, yang terjadi sekarang malah sebaliknya," keluhnya.

Saat ini, satu-satunya jalan untuk meminimalisir tekanan terhadap karet adalah meningkatkan konsolidasi dengan sejumlah negara produsen karet dunia, khususnya di kawasan Asean. Pihaknya berharap, pemerintah Indonesia sesegera mungkin untuk menjalin komunikasi dengan negara-negara di kawasan ini untuk sama-sama menahan produksi karet sehingga harga bisa kembali naik. "Jika produksi masih berjalan terus sedangkan permintaan rendah, maka akan terjadi penumpukan stok yang berimbas pada turunnya harga," jelasnya.

Pengamat ekonomi Sumut M Ishak mengungkapkan sebagai satu negara produsen karet terbesar di dunia, Indonesia sebenarnya memiliki posisi yang sangat menguntungkan dalam pengendalian harga komoditas itu. "Sayangnya, kita malah kalah dengan permainan pasar. Ini masalah yang sangat ironis," katanya.

Seharusnya, kata dia, dengan produksi karet yang cukup tinggi, industri pengolahan karet di Indonesia mampu bertumbuh dan berkembang dengan cepat. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Banyak industri karet yang justru mengalami perlambatan kinerja, baik dari segi produksi maupun pendapatan.

"Untuk itu, pemerintah dan pengusaha perlu duduk bersama membahas masalah ini, karena jika dibiarkan terus, selain industri yang bakal kolaps, neraca perdagangan pun ikut goyang," tandasnya.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: