Harga Tertekan, Petani dan Pengusaha Karet Kurangi Produksi

___20141018073811_809.gif

LinkJournal – Petani dan pengusaha karet di Sumatera Utara (Sumut) memperpanjang pembatasan produksi karet menyusul rendahnya permintaan karet dari pasar ekspor dalam beberapa tahun belakangan.

Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah mengungkapkan, saat ini pengusaha terus membatasi produksi karet untuk mengerek harga karet di pasar internasional yang anjlok.

"Pembatasan 10 persen itu juga memengaruhi pasokan karet ke pasar ekspor selain lemahnya permintaan dari negara-negara konsumen utama," katanya, Jumat (17/10) di Medan.

Diungkapkannya, kebijakan membatasi produksi sebanyak 10% tersebut telah dimulai sejak awal tahun dan belum bisa dipastikan kapan kebijakan itu berakhir mengingat permintaan karet juga masih rendah.

Pada periode Januari hingga September tahun ini, volume ekspor karet Sumut hanya sebanyak 348,36 ribu ton, atau turun sekira 8,15% dibanding tahun lalu yang mencapai angka 379,25 ton. Lesunya permintaan dari Amerika, Eropa dan sejumlah negara di Asia menjadi pemicu utama anjloknya kinerja ekspor karet itu.

Lemahnya permintaan karet itu juga terus menekan harga karet di pasar internasional. Saat ini, harga karet di pasar ekspor masih bermain di kisaran US$1,43 hingga US$1,45 per kg, padahal sebelumnya selalu bermain di atas US$2,5 per kg. Sedangkan harga karet di pabrikan lokal saat ini hanya pada level Rp15.000 per kg. Paling parah harga di tingkat petani yang paling tinggi dihargai Rp5.000 per kg. "Sebelumnya harga karet di tingkat petani bisa mencapai belasan ribu rupiah per kg," jelasnya.

Merosotnya harga karet ditingkat petani itu membuat sebagian petani enggan untuk menderes karet. Ini disebabkan harga saat ini tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Syamsuddin Siregar, seorang petani karet di Desa Bargottopong Jae, Padang Lawas Utara mengatakan, harga karet yang rendah itu telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Dua bulan silam, harga karet masih mencapai Rp7.000 per kg. Kondisi ini membuat petani karet sangat merugi dan mengeluhkan kondisi harga karet yang tidak stabil.

"Petani karet sangat mengeluhkan hal ini, karena jujur pendapatan bisa berkurang lebih dari 50%, warga juga banyak yang mengutang ke tengkulak karena pendapatan tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan kondisi tersebut, banyak petani karet yang enggan menderes karet," keluhnya.

Selain pemilik karet, sambungnya, buruh tani penderes karet juga semakin "menjerit". Pasalnya, penderes hanya mendapatkan separuh dari yang didapatkan pemilik karet. "Misalnya, dalam seminggu hanya sekitar 70 kg karet yang dideres. Dengan harga Rp5.000 maka yang diperoleh hanya Rp350.000 dan itu dibagi dua. Pendapatan 175 ribu per minggu tentu tidak mencukupi kehidupan keluarganya," kata dia.

Petani berharap, meski harga karet di tingkat dunia memang belum stabil, pemerintah Indonesia memiliki langkah-langkah untuk menyelamatkan petani karet. Sehingga petani dapat lebih bersemangat dalam menanam karet.
"Petani lebih membutuhkan penyetabilan harga karet di tingkat petani, bukan bantuan seperti pupuk atau bibit karet gratis. Apa gunanya jika harga terus-terusan merosot," tandasnya.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: