Harga Karet Bergerak Naik

___20141027055800_791.gif

LinkJournal – Mulai menguatnya harga karet dalam beberapa hari terakhir belum membawa dampak yang signifikan terhadap petani dan pengusaha karet di Sumut. Bahkan, pengusaha diminta untuk hati-hati menutup kontrak ekspor karena harga karet yang berlaku saat ini tergolong masih rendah.

Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah mengungkapkan, pihaknya kembali menyampaikan edaran kedua kepada seluruh anggotanya untuk meminta mereka agar tetap berhati-hati menutup kontrak, baik sisa kuartal IV 2014 maupun kuartal I 2015. "Harga karet masih rendah meski saat ini sudah di atas US$1,60 per kg," katanya, Minggu (26/10).

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, harga karet di pasar internasional menyentuh level US$1,63 per kg. Angka tersebut sedikit mengalami peningkatan karena dalam dua bulan terakhir harga karet selalu bermain di bawah US$1,5 per kg. Begitupun, produsen karet tetap melanjutkan pembatasan penjualan karena level penguatan harga masih dianggap rendah.

Lima asosiasi perdagangan karet ASEAN, yaitu Thai Asosiasi Karet (TRA), Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Malaysia Rubber Board (MRB), Vietnam Rubber Association (VRA) dan Association for Rubber Development of Cambodia (ARDC) telah sepakat tidak menjual karet bila di bawah US$1,5 per kg. Bahkan, saat ini para eksportir mulai enggan menjual karet mereka jika harga masih di bawah US$1,6 per kg.

Edy mengungkapkan sebelum surat edaran kedua itu dikeluarkan, Gapkindo juga telah mengirim surat kepada anggota dan sesama negara penghasil karet dan meminta mereka untuk menempatkan batas bawah harga karet pada level US$1,50 per kg setelah harga global yang merosot lebih dari 30% tahun ini. "Dampaknya, harga karet perlahan-lahan mulai menguat," katanya.

Bahkan, saat ini Thailand, Malaysia, Vietnam dan Kamboja sepakat untuk mendesak petani supaya tidak menjual karet di bawah US$1,50 per kg dan diharapkan mampu membuatnya menjadi stabil meskipun beberapa perusahaan masih menjual di bawah standar minimum. "Saat ini juga, Gapkindo telah meminta kepada pengusaha untuk membatasi volume, frekuensi dan lamanya kontrak dan penawaran hingga akhir kuartal pertama tahun depan dengan harapan harga kembali terdongkrak," jelasnya.

Menurutnya, dengan adanya kebijakan itu, para pengusaha akan menunggu hingga harga karet benar-benar stabil sebelum membuat kontrak. Secara tidak langsung, para pembeli akan meningkatkan penawaran karena stok karet akan terbatas. Belum lagi dengan pembatasan penjualan yang tetap berlangsung hingga pertengahan tahun depan.

Upaya tersebut juga dimaksudkan untuk mendukung perkembangangan industri hulu dan hilir di Indonesia. Tiga negara produsen karet terbesar dunia, yakni Thailand, Indonesia dan Malaysi kini mulai mengembangkan industri hulu dan hilir dengan harapan stok karet banyak terserap untuk industri-industri lokal itu.

Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengungkapkan, langkah yang diambil pengusaha dan petani tersebut bisa dibilang merupakan langkah strategis guna menjaga harga karet tetap stabil. "Sebagai produsen terbesar, kita bisa saja membatasi pasokan ke pasar sehingga harga kembali terdongkrak," katanya.

Begitupun, tambahnya, pemerintah perlu memikirkan pemberian insentif kepada petani seperti yang dilakukan Thailand di saat harga karet terpuruk. Hal itu bisa sangat membantu petani untuk tetap bertahan karena penghasilan dari karet tak mampu mencukupi kebutuhan.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: