Harga Cabai Kembali Merangkak Naik

14409_12382_17-03-RATU-Cabai-lombok-(5).jpg

LinkJournal – Belum puas menikmati harga cabai yang murah, kini ibu rumah tangga harus merogoh uang lebih untuk membeli cabai. Sebab, harga cabai mulai merangkak naik. Kenaikan harga cabai disebabkan beberapa faktor. Salah satunya, gagal panen. Itu terjadi lantaran tanaman cabai membusuk dan mati karena pengaruh cuaca.

Berdasar pantauan di lokasi, tanaman cabai milik petani di Desa Gandekan, Kecamatan Wonodadi, membusuk. Padahal, cabai tersebut bakal dipanen. Akibatnya, banyak petani yang kelimpungan karena sebagian besar cabai membusuk. ’’Karena banyak yang membusuk, otomatis hasil panen cabai menurun,’’ ungkap Siti Maryam, petani cabai setempat.

Menurut dia, tanaman cabai membusuk karena cuaca ekstrem. Yakni, sehari hujan, tetapi beberapa hari panas. Padahal, cabai termasuk jenis tanaman yang sangat mudah terpengaruh oleh cuaca. Siti menyatakan, membusuknya tanaman cabai tidak hanya dialami petani cabai setempat, tetapi juga di daerah lain. ’’Rata-rata banyak tanaman cabai yang membusuk,’’ jelasnya.

Nah, membusuknya tanaman cabai berdampak pada menurunnya jumlah panen cabai di tingkat petani. Menurut dia, kondisi tersebut mengakibatkan harga cabai di pasaran naik. Saat ini harga cabai rawit Rp 14 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram. Padahal, sebelumnya 1 kilogram hanya Rp 10 ribu. Sementara itu, harga cabai merah keriting Rp 15 ribu. Sebelumnya Rp 11 ribu perkilogram. ’’Meski di kisaran belasan ribu, tapi kenaikan cabai lumayan besar. Yakni, naik sekitar Rp 4 ribu per kilogram,’’ bebernya.

Hal serupa diungkapkan petani di Desa Tugu, Kecamatan Sendang, Tulungagung. Ratusan tanaman cabai di desa mereka diserang hama patek. Mereka terancam rugi karena hasil panennya menurun drastis. Banyak tanaman berasa pedas itu yang mati. Lasemi, petani cabai desa setempat, menyatakan, hama patek mulai menyerang sepekan terakhir. Hama langsung menyerang buah. Itu membuat cabai busuk dan rontok.

’’Sudah seminggu ini diserang patek. Mungkin karena pengaruh curah hujan tinggi dan tingkat keasaman tanah,’’ ungkapnya Senin (16/3). Perempuan berusia 50 tahun itu menyatakan, petani mendapat informasi dari petugas pemantau bahwa penyakit patek disebabkan cendawan Colletotrichum capsici. Jika hama patek menyerang saat pembibitan, tanaman akan layu. Apabila menyerang kepada tanaman dewasa, dampaknya adalah mati pucuk, busuk, serta kering pada batang dan daun.

Dampaknya terhadap cabai adalah membusuk dan dipastikan gagal panen. ’’Saya menanam sekitar 3.500 bibit. Hampir setengahnya dirusak hama patek. Dampaknya, tanaman yang sedang berbuah itu banyak yang mati,’’ keluhnya.

Jika dihitung dari modal, lanjut Lasemi, petani rugi. Rata-rata modal untuk menanam cabai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Saat panen, keuntungan bisa Rp 3 sampai Rp 4 juta, bergantung harga cabai di pasaran. Panen pertama beberapa hari lalu tidak bisa mencapai 1 kuintal, tetapi hanya menghasilkan 10 kilogram hingga 30 kilogram. Padahal, umumnya, kalau tanaman sedang bagus, panen cabai bisa menghasilkan lima kali lipatnya.

’’Memang 1 kilonya untuk cabai rawit saya jual terakhir Rp 22 ribu, sedangkan cabai keriting 1 kilo Rp 8 ribu. Namun, karena hasil panennya minim, tetap saja rugi. Mungkin hampir 100 hektar yang terkena patek,’’ jelasnya.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: